PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

 

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

HADIRIN RAHIMAKUMULLAH.

Tahun 1990 di Markas Besar PBB diadakan konferensi terbesar yang di hadiri oleh para pembesar sedunia, termasuk Michael Gorbachev, Margharet Thatcher, George Bush dan pembesar dunia lainnya. Agenda yang mereka bahas adalah dunia anak-anak. Mengapa mereka membahas dunia anak-anak? Bukankah industri, ekonomi, teknologi, senjata kimia, berbahaya bila tidak diarahkan? Akan tetapi, sungguh jauh lebih berbahaya bila anak-anak, remaja, dan para pemuda tidak dibina, dididik, dan diisi dengan nilai-nilai agama.

Hadirin. Mendidik atau membina seorang anak merupakan salah satu kewajiban kedua orang tua. Dengan figur seorang ayah yang berwibawa dan bijaksana, dengan profil seoarang ibu yang penyantun, lembut, serta dapat membesarkan dan mendidik anak-anaknya denga buaian kasih sayang. Inilah yang dinamakan dengan : “Keluarga dalah sekolah yang paling pertama dan paling utama”.

Dengan peran seorang ibu yang memiliki tanggung jawab moral terhadap pendidikan anak-anaknya, serta seorang ayah selaku kepala rumah tangga yang memiliki tanggung jawab di dunia ini lebih-lebih di akhirat kelak di hadapan Allah swt. Maka “ PENDIDIKAN ANAK DALAM  ISLAM SEBAGAI SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS” merupakan pembahasan yang akan kita kaji pada kesempatan hari ini. Dengan landasan al-Qur’an surat at-Tahrim ayat 6 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ {٦}

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-Tahrim :6]

HADIRIN MA’ASYRAL MUSLIMIN ROKHIMAKUMULLAH,

Demikian penegasan allah tentang mendidik anak dengan redaksi kalimat amar atau perintah yang terangkai pada kalimat قوا انفسكم واهليكم mewajibkan kepada kita agar bisa menjaga diri dan ahli-ahli kita dari api neraka. Baik neraka dunia, ataupun neraka akherat. Lalu siapakah ahli dalam ayat tadi? para ahli tafsir bersepakat yang dimaksud ahli dalam ayat tersebut adalah anak dan isteri.

Hadirin, ketika turun ayat ini Umar bin Khotab bertanya kepada baginda Rasulullah saw :

نقى انفسنا وكيف باهلنا

Ya Rasulallah, kami talah menjaga diri kami masing-masing tapi bagaimankah menjaga ahli kami ?” Rasulullah menjawab :

تنهونهم عما نها كم الله وتأمرونهم بما امر الله

Kamu larang mereka terhadap hal-hal yang dilarang allah kepadamu, dan perintah mereka terhadap hal-hal yang diperintahkan Allah kepadamu”.

HADIRI RAKHIMAKUMULLAH

Berdasarkan penjelasan di atas maka jelaslah, bahwa pendidikan bagi sang buah hati tidak dapat diremehkan justru harus di perhatikan sebaik mungkin. Dr. Muhammad Sulaiman al-Asqori dalam Zubdat al-Tafsir min Fath al-Qadir menjelaskan bahwa secara implisit, conclusi dari ayat tersebut adalah menjaga istri agar menjadi shalihah, yang pandai menjaga diri, menjaga kehormatannya, menjaga rumah tangganya, menjaga harta suaminya. Tapi tak kalah penting nilainya adalah, ia pandai menjaga, membina serta mendidik anak-anaknya.

Ajaran ini hadirin, mengisyaratkan agar ibu-ibu membentuk anak-anak yang shaleh dan shalehah, sehingga menjadi buah hati belahan jantung orang-orang di sekitarnya. Untuk membentuk anak yang shaleh dan shalehah, maka seorang ibu harus shalihah terlebih dahulu. Sebab dalam psikologi modern di terangkan, 70% watak anak di pengaruhi oleh faktor ibunya, jika ibunya shalehah maka anaknya akan menjadi shaleh, pantas bila Syair mengatakan

الام مدرسة الاول إذا اعدد تها تددع شعبا طيب الاعرق

“Ibu adalah sekolah yang paling pertama dan utama, jika dipersiapkan akan membentuk generasi-genarasi yang hebat”

Inilah yang di sebut (النساء عماد البلا د) wanita tiangnya negara. Keberhasilan seorang ibu dalam membentuk anak menjadi shaleh merupakan kesuksesan ibu dalam membangun bangsa ini. kegagalan ibu membina anak-anak mereka merupakan awal kehancurn bangsa ini. Mengapa demikian? Sebab (شبان اليوم رجال الغد) the young today is the leader tomorrow, sekarang mereka adalah anak-anak esok hari mereka harus menjadi jago-jagonya pemimpin bangsa.

Untuk itu, seorang ibu bukan hanya di tuntut harus mampu mendidik anak, tapi ia harus mau mendidik anak-anaknya. Karena di zaman sekarang ini banyak ibunya sarjana, bapaknya sarjana, namun anaknya di besarkan dalam buaian seorang pembantu yang papa tiada berdaya intelektualnya. Padahal dengan sikap ibu seperti itu, berarti menghambat terbentuknya anak-anak yang shaleh, yang pada hakikatnya menghambat terhadap pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Namun perlu diingat dan jangan sampai kita lupa, bahwa memiliki buah hati, permata jiwa, dan belahan jantung merupakan idaman setiap keluarga, karena seorang anak merupakan salah satu dari perhiasan dunia. Namun semua itu bisa menjadi musuh dan fitnah apabila kita tidak berhati-hati terhadapnya. Sebagai mana Allah swt telah mengisyaratkan kepada kita melalui firmannya di dalam al-Qur’an surat at-Taghobun ayat 14-15 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ{14}إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ{15}

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (14) Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.(15)” [QS. At-Taghabun : 14-15]

HADIRIN YANG BERBAHAGIA,

Al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi dalam kitab Shahih Asbab an-Nuzul berkata, Ibnu Abbas menjelaskan, bahwa ;

هؤلاء رجال أسلموا، فأرادوا أن يأتوا رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم؛ فأبى أزواجهم وأولادهم أن يدعوهم يأتوا رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Mereka adalah orang-orang yang memeluk Islam dari penduduk Mekkah, mereka ingin berhijrah kepada Nabi Muhammad saw namun isteri-isteri dan anak-anak mereka tidak mau, mereka meninggalkannya berhijrah kepada Rasulullah Muhammad saw.

فلما أتَوا رسول الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم فرأوا الناس قد فقهوا في الدين، هموا أن يعاقبوهم

Maka tatkala mereka berhijrah kepada Rasulullah saw dan melihat para sahabatnya telah mendalami agama, mereka pun berkehendak untuk menghukum isteri-isteri dan anak-anak mereka. Maka Allah swt menurunkan : “Hai orang-orang yang beriman, sesunguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.

Hadirin, berdasarkan penjelasan di atas, maka sesungguhnya segala potensi yang ada pada diri anak dimasa muda harus dikembangkan dan di arahkan kepada hal-hal yang positif dan bertanggung jawab untuk kesejahteraan sosial, karena masa muda merupakan masa  yang  penuh  dengan  harapan,  penuh  dengan  cita-cita dan penuh dengan romantika kehidupan yang sangat indah. Keindahan masa muda dihiasi dengan bentuk fisik yang masih kuat, berjalan masih cepat, pendengaran masih akurat, pikiran masih cermat, kulit wajah indah mengkilat, walaupun banyak jarawat, tetapi tidak gawat karena masih banyak obat ditoko-toko terdekat. Ini semua harus dimanfaatkan bagi orang tua maupun para pendidik dalam melakukan pendidikan anak.

Pada akhirnya kami mengajak kepada setiap orang tua yang berada di seluruh penjuru dunia ini, khususnya kepada orang-orang Lampung “ajakhi anakmu agama Islam”, kepada orang-orang Jerman “lerned bitte daine kinder mit relligion”, kepada orang-orang Jepang, “shuukyou no bunkyou to anata no kodomo wo kyoudotte yo”. Demikianlah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan ada manfaatnya.

والله المستعان إلى احسن الحال

و السلام عليكم ورحمة الله و بركا ته

(Sumber Blog : Ustadz Ahmad Rajafi, MHI)

Posted on 28 Juni 2011, in Sosial dan Keagamaan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: