PERSATUAN DAN KESATUAN DALAM ISLAM

United we stand devided we fall, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, الجماعة رحمة والفرق عذابungkapan tersebut menggambarkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan. Karena tidak ada kemenangan tanpa kekuatan, dan tidak ada kekuatan tanpa persatuan dan persatuan. Demikian menurut almarhum panglima besar jenderal Sudirman.

Dengan demikian, untuk meningkatkan citra bangsa kita di mata dunia serta menyelesaikan berbagai problematika yang sekarang kita hadapi, syarat utama dan pertamanya yaitu dengan mempertahankan persatuan dan kesatuan yang selama ini kita bina. Nuansa perbedaan yang muncul dari keragaman dari negara kita ini  tidak mustahil memicu lahirnya fanatisme buta, persaingan tidak sehat, perselisihan, gontok-gontokan, perpecahan, yang bisa meluluh lantahkan nilai persatuan dan kehancuran bangsa kita ini. Perpecahan itu ibarat lidi yang keluar dari ikatannya, maka hilang pula kekuatannya. Lalu bagaimana upaya kita dalam memperkokoh persatuan bangsa ini ? untuk itu persatuan dan kesatuan dalam islam adalah tema yang akan kita bicarakan pada kesempatan kali ini, dengan landasan Al-Qur’an surat Al-Hujuraat ayat13 :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Hadirin yang kami hormati

Dari segi balaghah firman Allah tadi bersifat Khabari, dengan artian bahwa manusia diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, bercorak suku, berlainan bangsa. Semua memiliki harkat, derajat dan martabat yang sama di hadapan Allah SWT.

Saudara-saudara kalau kita kaji lebih dalam Sabab AnNuzuul ayat ini menurut ibnu Asy-Syakir dalam kitab Mubhamat bersumber dari abu bakar bin abu daud, bahwa ayat ini berkenaan dengan keinginan Rasulullah SAW untuk menikahkan abi hindin dengan seorang wanita dari kalangan Baidhah. Bani Baidhah dengan sinis berkata pada Rasulullah ” ya Rasulullah pantaskah kami mengawinkan putri-putri kami kepada budak-budak kami ? Rasul belum sempat menjawab saat itu, jibril datang menyampaikan surat Al-Hujurat ayat 13 yang pada ayat itu terdapat kalimat :

لتعارف اى ليحصل بينكم التعارف والتألف

Agar kamu saling mengenal, yakni menjalin komunikasi yang harmoni dan menebarkan cinta kasih serta kasih sayang yang tiada pilih kasih.

Demikian penjelasan Ali Ash-Shobuni dalam kitab Shafwatut Tafaasir.

Dengan demikian, untuk membina persatuan dan kesatuan di negeri tercinta ini, langkah awalnya adalah harus saling mengenal, saling menghargai, dan bertoleransi di antara kita. Bukan saling menutup diri, melecehkan, menghina, membangga-banggakan kelompok, suku bangsa, maupun daerah masing-masing. Sebab sifat-sifat seperti itu hadhirin merupakan cikal bakal pecahan, pertikaian, dan tidak mustahil penyebab terjadinya disintegrasi bangsa hingga hancurnya negeri ini.

Rasululah SAW bersabda :

ليس منا من دعا على عصبيته وليس منا من مات على عصبيته

Bukan golongan kita, orang yang membangga-banggakan kesukuan dan bukan golongan kita orang yang mati karena membela, mempertahankan dan memperjuangkan kesukuan.

Allah SWT mengisyaratkan agar saya, saudara dan kita semua memperkokoh persatuan dan kesatuan dan melarang untuk bercerai berai. Ini terangkai dalam surat Ali Imron ayat 103 :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 Artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

 Hadirin yang kami hormati.

 Demikian penegasan Allah tentang pentingnya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa yang diisyaratkan pada kalimat واعتصموا بحبل الله جميعا secara rinci Imam ibnu katsir menjelaskan :

اى امرهم بالجماعة ونهاهم عن التفرقة

“Allah menyuruh bersatu padu dan melarang bercerai berai”

Hadirin, bagaimana ayat tersebut jika kita kaitkan dengan situasi dan kondisi bangsa ini ? ayat tersebut memotivasi kita agar perbedaaan ideologi, organisasi, agama, adat istiadat, suku bangsa, dan bahasa harus menjadi jembatan emas guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, mulai detik ini kita samakan langkah, seragamkan gerak, satukan persepsi, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Perbedaan jangan melahirkan perpecahan, tapi hendaknya perbedaan menjadikan kita harus saling menghargai dan melengkapi. Lalu jika kita lihat keadaan bangsa kia sekarang in, negara indonesia yang berada dari Sabang sampai Merauke, terdapat sebuah pertanyaan besar. Bagaimanakah kekompakan di negeri kita sekarang ini ? Alhamdulillah seiring dengan semangat gotong royong, seirama dengan semangat bhineka tunggal ika, berbeda-beda tapi satu jua, perbedaan persepsi dan visi dalam pembangunan masih dirasakan sebagai فاستبقوا الخيرات berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan demikian insya allah, merupakan jaminan allah apabila perbedaan dilandasi dengan iman dan diorientasikan menimba amal kebajikan, maka allah menjamin kebaikan dan ampunan, semoga kita mendapatkannya, Amin Ya Robbal Alamin.

Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa persatuan dan kesatuan merupakan modal kesuksesan bangsa. Untuk mewujudkan persatuan tersebut langkah awalnya kita harus saling menghargai terhadap perbedaan di antara kita. Jika sikap ini yang kita tumbuh kembangkan, maka persatuan bangsa akan tercipta, rakyat akan sejahtera.

Wahai saudara-saudaraku orang jawa kito sedoyo sederek, wahai saudara-saudaraku orang betawi kite semuanye besodare, wahai saudara-saudaraku orang lampung kham jama-jama besodagha, wahai saudara-saudaraku orang madura taretan-taretan sadeje sampean kabi sadajena satareta, wahai saudara-saudaraku orang aceh gutanyo bandum masudara berme pake-pake, wahai saudara-saudaraku papua irian jaya ipar-ipar katorang samua basudara, wahai saudara-saudaraku keturunan tyong hoa tha cia thu she icajin banya cincaila, wahai saudara-saudaraku orang India ham seb bai bhai kuo mahabathe. Kita tingkatkan ukhuwah basyaryyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah islamyyah demi tegaknya Negara Indonesia yang madani.

Wabillahi taufiq wal hidaayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

( Sumber blog : Ustadz Ahmad Rajafi, MHI )

Posted on 1 Juli 2011, in Sosial dan Keagamaan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: